Sabtu, 01 Agustus 2015
Malem Minggu
Kamis, 23 Juli 2015
Ketika Cerita hadir di Tempat yang Tak Kau Duga
Minggu, 08 Maret 2015
Kenyamanan
Kenyamanan. Bukan salah kami jika kami mencari rasa nyaman, bukan nyaman karna keterpaksaan. Tapi nyaman karna adanya rasa yang mengalir bersama dan ber iringan dengan waktu.
Tidak tahu diri kami ini, jika kami memaksakan lingkungan untuk nyaman hanya kepada kami. Kami yang memiliki ambisi bahwa jika tidak nyaman kami tidak akan berada pada lingkungan itu lagi. Egois pula mereka, yang meminta kami hadir di setiap waktu yang mereka inginkan tanpa memikirkan rasa nyaman itu apakah sudah berwujud nyata atau masih berkamuflase.
Apa salahnya jika kami meminta hal yang sarat akan permohonan, sarat akan rasa, dan sarat akan kemampuan. Terkadang mereka mengatakan kami ini egois, kami ini munafik, bahkan tak jarang kami dikatakan bermuka dua. Tak hanya cemoohan, kami pun mendapat perlakuan yang tak menyenangkan dibalik cemoohan itu. Kami merasa terasingkan, kami merasa tak ada tempat yang menyatu bersama kami.
Bahkan alam sekalipun mungkin saja menolak kehadiran kami untuk menghirup udara yang sama.
Tentu saja kami tidak bodoh. Kami tidak akan menampakan rasa ketidaknyamanan kami. Kami memilih munafik pada diri kami sendiri. Kami melukai diri sendiri, kau tahu? Sampai kami tak dapat merasakan sakit seperti apa saja yang telah terjadi pada tubuh ini.
Terkadang kami ingat perkataan 'lebih baik terasingkan daripada hidup dalam kemunafikan'. Tapi apa boleh buat. Sudah tak dapat dibayangkan lagi rasa asing yang akan kami terima jika memaksa mencari kenyamanan.
Rasa yang harusnya dapat dengan bebas diperoleh tanpa melihat kasta apalagi mata.
Bodoh kami ini. Yaa kami memang bodoh. Tapi bodoh lebih baik dibanding mati dengan kesepian.
Kami ini makhluk yang sama seperti kalian atau mereka. Kita adalah makhluk ciptaanNya yang paling sempurna. Kesempurnaan yang akan nyata apabila kami, mereka, kalian, KITA saling menyatukan kesempurnaan kecil yang ada sehingga menjadi kesempurnaan yang seharusnya.
Rabu, 13 Agustus 2014
Apalah ini
Apalah ini
Ide cerita.
Alur cerita.
Nulis cerita.
Nulis cerita.
Pending.
Nulis cerita.
Bingung.
Pending.
Pending.
Pending.
Mau udahan.
Tanggung.
Nulis cerita.
Nulis cerita.
Gagal.
Hapus.
Nulis cerita.
Gak konsen.
Pending. . .
Haha. Dinar banget itu, pas awalan mau bikin cerita true love itu kebayang banget nanti begini-begini. Dan akhirnya begini.
Ehh tengah-tengahnya kelupaan gak terlalu dipikirin, dan ketebaklah jadinya mentog di tengah-tengah.
Sayang banget sih, padahal menurut dinar kalau ini cerita dilanjutin bakalan keren banget. Eeeh sayangnya ngelanjutinnya bukan untuk sekarang.
Padahal pas awalan mah nulis ceritanya itu dimana aja, selama ide itu lagi kuat banget. Kadang di ruang tamu, kadang sambil ditonton tv (karna dinar asik main hp, yaa tv yang tontonin dinar), kadang di angkot, bahkan beberapa kali pas dinar lagi p*tiiit* ini takut jorok.
Sayangnya harus pending. Kayaknya sih ada yang salah dari awal, jadi pas di tengah agak ambigu gituu. Jadi yaa terpaksa harus dirombak, eh gak dirombak dulu deh. Di edit dulu aja, dirombak mah belakangan kalau pas diedit gak bisa mengembalikkan keadaan.
Nah intinya dinar nulis ini apayaa. Entahlah diriku pun tak tahu. Judulnya aja 'apalah ini'. Eh tapi yang pasti nulis cerita yang pure of imagination it's so hard. Alaaaaah sok jawa, eh tapi itu b.inggris. maksudnya sok inggris, padahal belum tentu bahasa jawanya bener. Ehh itu bahasa inggris. Oke dinar bingung sama diri dinar sendiri, wassalam. :)
@dinarariyatni yaaa. Cari aja di nomor telpon darurat. Yakali aja dibantu sama petugasnya. Atau cari di DPO. Wakawakawaka (:ditulis: wkwk) bye :))
Rabu, 16 Juli 2014
True Love.eps 2.
Ruangan kerjaku berada di lantai lima dan aku sekarang sudah berada di lantai empat namu waktu sudah menunjukan pukul 07.20, aku panik saat itu. Dan betul saja, ketika aku sampai di lantai lima betapa terkejutnya aku saat melihat bosku berada di depan lift.
"Maaf pak, aduh bapak datang lebih dulu dari saya. Saya ngerasa gaenak banget." Ucap saya spontan ketika melihat pak bos di depan mata. Padahal secara matematik saya masih punya waktu sekitar 9 menit sebelum akhirnya benar-benar terlambat.
"Eh, tingkah kamu ini bikin saya pengen ketawa. Qosama afkar bashira, ini itu belum setengah delapan. Kenapa kamu harus panik? Kalau aja umur anak saya masih hidup mungkin akan saya jodohkan kamu sama dia. Karena tingkah kamu ini" begitulah balasan pak bos, saya memang biasa memanggilnya pak bos. Karena itu akan menumbuhkan ikatan bos dengan karyawannya. Tapi jika diluar kantor saya biasa memanggilnya pak burhan.
Dari awal saya bekerja, pak burhan memang sering sekali membicarakan jika dia ingin sekali menjodohkan anaknya dengan saya. Namun, itu tidak akan pernah terwujud karena anaknya meninggal saat berusia 13 tahun saat kanker menggerogoti badannya. Pak burhan sering sekali cerita soal ini, dan setiap kali dia bercerita mengenai anaknya. Dia selalu menitihkan air mata.
"Eh iya pak, kan saya gak enak masa pak bos datang lebih dulu dari pada karyawannya." pungkas saya
"Udah, kamu gak pernah telat juga kan? Sekarang kamu ke ruangan kamu. Ntar siang ada tamu penting, saya mau pergi ke depan bentar." Ucap pak bos
"Oh iya, siap pak" pungkasku.
Hari menjelang siang, namun belum juga terdengar kabar dari tamu penting itu. Dan pak bos pun tidak diketahui keberadaannya, sejak tadi pagi pergi dia belum kembali juga.
Setelah lama menunggu pak bos akhirnya datang bersama tamu penting itu, namun sepertinya tamu penting itu grogi karena kulihat saat hendak memasuki ruangan dia beranjak ke toilet.
"Afkar, kamu liat yang tadi bersama saya? Dia tamu pentingnya. Dulu waktu smp dia temennya anak saya, eh sekarang udah jadi pengusaha aja. Dia mau ngadain riset disini, ntar kamu ajak dia keliling yaa" ucap pak bos panjang lebar sampai tak sempat aku menjawabnya
"Iya pak, tapi saya belum liat mukanya. Pas tadi diperhatikan, dia pergi ke toilet yaa?" Tanyaku kepada pak bos untuk menegaskan bahwa aku memang belum melihat mukanya. Yang kulihat hanya baju kemaja garis vertikal berpadu dengan celana hitam.
"Iya, tapi bentar lagi juga balik lagi"
Betul saja, tak lama pria itu kembali.
"Itu dia lagi jalan kesini, kamu ajak dia keliling. Saya percaya sama kamu afkar. Saya ada urusan dulu. Permisi" ucap pak bos yang kemudian meninggalkan saya, saya bahkan belum mengenal pria itu. Tapi saya harap dia tidak cuek.
"Hey, afkar yaa. Tadi pak burhan bilang ke saya kalau kalau saya mau tanya apa-apa ke afkar aja." Ucap pria itu, ternyata harapanku terwujud. Pria itu sepertinya tidak cuek karena dia terus menebar senyuman sembari menyapaku.
"Oh iya, mari. Nama saya Qosama afkar bashira. Anda bisa panggil saya afkar. Dan anda?" Ucap saya sembari menjulurkan tangan, bermaksud untuk berkenalan terlebih dahulu.
"Saya rifqie nadim ukail. Panggil saya rifqie. Saya sempat liat afkar pas macet, yang tadi bawa mobil merah kan? Saya yang bawa sedan hitam. Ingat?" Ucapnya sembari berjabat tangan dengan saya. Dalam hati saya, saya mencoba mengingat bagaimana muka pria yang ada di sedan hitam itu. Sembari mengamati muka rifqie, ternyata mukanya memang persis. Dan menurut saya, dia tampak lebih tampan ketika dilihat dari jarak jauh. Untung saja, saya tertarik dengan pria itu hanya saat di kemacetan dan itu membuktikan jika saya tidak betul-betul tertarik dengan pria itu.
Tiba-tiba rasanya badan saya seperti disenggol, hingga hampir saja membuat saya nyaris tak bisa menjaga keseimbangan.
"Eh maaf, tadi nginget dulu. Iya saya yang tadi bawa mobil merah. Yang nyenggol tadi rifqie?" Tanya saya kepada rifqie ketika saya tersadar dari lamunan dan berhasil menjaga keseimbangan tubuh kembali.
"Iya, abisnya kelamaan mikirnya. Kita gausah kaku banget yaa karena kata pak burhan umur kita tidak beda jauh. Hanya saja saya lima bulan lebih muda dari afkar. Yaudah kapan mau ngajak kelilingnya?" Suaranya seakan menyejukan hati saya sehingga saya sampai tak terpikirkan untuk menanyakan hubungannya dengan darla. Saya hanya membalas pertanyannya dengan senyuman.
Hari beranjak malam, tepatnya sekarang sudah pukul tujuh. Dan semua sisi kantor sudah di kelilingi, termasuk hal yang diluar nalar. Tempat itu adalah toilet, dapur, dan tempat parkir. Namun anehnya, selalu ada saja pertanyaan di tiap tempat yang dikunjungi hingga saya harus bertanya kepada oranglain untuk menjawab pertanyaannya. Dan saya sempat berpikir sebelum dia melakukan riset ini sepertinya otaknya dikosongkan terlebih dulu karena begitu banyak pertanyaan yang dia ajukan kepada saya.
Ketika waktu menunjukan pukul 07.35 dia memutuskan untuk menyudahi riset hari ini.
"Eh kar, udahan aja. Udah lebih dari cukup nih infonya. Thanks yaa." Karena hampir setengah hari kita lalui bersama, kita sudah tidak canggung satu sama lain.
"Iya sama-sama, lagian gimana gak lebih dari cukup. Pertanyaannya banyak banget" ucap saya lantang tanpa memikirkan perasaan dia atas ucapan saya. Suasana sempat sunyi, sehingga saya berpikiran kalau dia tidak suka atas ucapan saya
"Yaelah, perhitungan lu ah. Eh dinner yu, hari ini gue langsung balik ke jakarta soalnya, gue traktir deh itung-itung tanda terimakasih." Selama tadi melakukan riset, tidak hanya membahas tentang riset tersebut. Namun juga tentang diri masing-masing, dan dia menginformasikan jika dia itu lahir, tinggal, dan bekerja di Jakarta.
"Iya, lagipula ada yang mau afkar tanyain"
Akhirnya kita putuskan untuk makan di rumah makan sunda dan pergi ke tempat tersebut menggunakan kendaraan masing-masing. Sesampainya di tempat makan, kita memutuskan untuk makan di tempat lesehan di pojok rumah makan tersebut. Dan di langsung memesankan makanan untuk kita berdua. Bahkan dia tak bertanya selera saya seperti apa.
"Kok main di pesen aja? Kalau nanti saya tidak suka gimana?" Saya memang agak sedikit sensi jika ada kesalahan soal makanan. Karena sedari kecil, saya memang banyak pantangan dari kedua orangtua saya.
"Yah jangan marah, yaudah ganti aja pesanannya. Maaf yaa." Pungkasnya.
"Gausah, terlanjur juga kan? Oh iya kata pak adi, rifqie dateng sama bu darla. Dia siapa? Tunangan?" Tanya saya untuk mengalihkan perhatian.
"Pak adi siapa? Bukan, masa gue tunangan dengan darla? Beda agama gitu. Dia sahabat gue dari kecil, dulu kita satu rt."
"Pak adi itu satpam di kantor. makanannya udah dateng. Yeey" Jawab saya sambil tertawa.
"Suka gak? Gue tadi pikir lu suka semua. Lu kan orang sunda dan ini rumah makan sunda"
"Iya suka, maaf yaa. Afkar gak inget kalau ini rumah makan sunda" ucap saya sambil tersipu malu.
Makan malam sudah selesai, dan kita berpisah saat dia hendak memasuki jalur tol dan kita sempat betukar kartu nama.
Sesampai di rumah, saya bergegas mandi dan tidur. Namun rupanya saya tidak bisa terlelap begitu saja, saya memikirkan rifqie. Bahkan saya tak mempunyai alasan untuk memikirkannya, namun saya seperti tidak bisa mengontrol diri saya sendiri. Spontan saya mengambil kartu namanya dan mengirim pesan singkat. 10 menit menunggu belum ada balasan, 20 menit menunggu belum juga ada balasan, 30 menit menunggu belum juga ada baladan, di menit ke 40 saya sudah terlelap tidur.
Hari ini, di kantor tidak begitu banyak "pekerjaan menggangu" sehingga saya putuskan untuk menemui bu darla. Saya selalu memanggilnya bu darla karena dia "senior". Sebetulnya saya tidak tahu di ruang mana bu darla bekerja. Saya hanya berkeliling saja dan apabila ada yang menanyakan perilaku saya, saya hanya jawab dengan senyuman. Beruntunglah, saya bertemu dengan pak adi dan dia mengantarkan saya ke ruang bu darla.
-segitu dulu aja deh, sudah mulai ancur mood nulisnya. Hahaha. Maafin kalau harus mikir keras bacanya
16 Juli 2014. 10.45 pm
@dinarariyatni
Kamis, 10 Juli 2014
Sahabat
Sahabat. Hanya satu kata yang punya banyak banget artinya. Dari satu orang aja bisa mengartikan itu lebih kurang tiga arti. Bayangkan saja jika ada 100 orang yang dijadikan contoh, bisa mendapatkan 300 arti dari kata sahabat. Tapi kan kali aja ada yang sama? Oke anggap saja 70% nya saja sisanya setelah di periksa karena ada yang sama. Itu berarti ada 210 arti dari kata sahabat. Menakjubkan bukan? Yaaa itu menakjubkan jika dengan hitungan asal.
Gimana dengan hitungan yang lebih rinci? Saya jamin hasilnya akan lebih menakjubkan. Karena ada bermiliaran orang bahkan bertriliun orang yang akan dijadikan objek. Mulai dari yang muda hingga yang tua, mulai dari yang tidak mampu hingga yang lebih dari cukup, mulai dari tokoh yang tidak dikenal sampai tokoh yang amat sangat dikenal, mulai dari yang tinggal di pedalaman sampai yang tinggal di kota sibuk, dll.
Kalau begitu, kita perkecil hitungan itu menjadi hanya satu contoh saja. Satu? Iyap satu aja. Yaitu aku aja. Hahaha. Tapi tetap dengan tumpuan "dari satu orang aja bisa mengartikan kata sahabat lebih kurang tiga arti". Berarti saya disini juga akan mengartikan kata sahabat dengan tiga arti.
1) Sahabat=Tempatnya buat bersabar
Kenapa tempat buat bersabar? Coba dibayangkan. Kalau sahabat "buat salah" kita bakal langsung maki-maki dia gitu? Bakal langsung ngeluapin emosi kita? Bakal langsung ngoceh panjang lebar biar dia ngerti? Bakal adu mulut buat menyelesaikan masalah? Menurut dinar kayaknya banyak yang berpendapat engga. Kebanyakan dari kita akan menanggapi itu sebagai ke khilafan dia, dan kita akan menasihatinya dengan penuh hati-hati karena khawatir akan melukai perasaannya. Karena sekalipun kita adalah orang yang sangat tempramental, kita gakan tega buat marahin dia karena balik lagi saat kita buat salah pun dia gakan marahin kita. Apalagi sampai nyeritain kejelekannya, yang ada di otak kita itu dia orang yang paling baik.
Beda dengan pertemanan biasa, yang belum mengenal dekat satu sama lain, saat orang itu berbuat salah rata-rata dari kita bakal langsung bilang kalau yang dia lakuin itu gak pantes. Dan mungkin rata-rata dari kita akan menggunakan nada sinis, setelah itu mungkin akan membicarakan kejelekannya ke orang-orang (ingat yaa rata-rata).
Tapi, karena sikap sabar yang terlalu sering dipendam biasanya saat sang sahabat melakukan kesalahan fatal atau melakukan kesalahan yang sama. Kebanyakan dari kita akan memilih diam dan pergi menjauh karena sudah kecewa dengan sikapnya itu. Beda dengan pertemanan biasa, kalau sekali marah kan langsung diluapin jadi gak ada yang eneg satu sama lain karena mereka saling "menghujat" jadi intinya, gakan bertahan lama marahan itu. Sebab gak adanya ikatan yang kuat di pertemanan. Asli ini bingung jelasinnya, moga ngerti deh maksud dinar apa. Hahaha. Ngerti ya? Dinar mohon. :)
2) Sahabat>Keluarga
Dinar yakin banyak yang gak sependapat sama yang nomor dua ini. Gak apa apa, namanya juga pendapat, jadi perbedaan itu wajar malah kalau sama semua gak asik.
Nih ya dinar coba jelasin, mungkin banyak yang mengatakan sahabat mah gak selalu ada. Sebab ada saatnya sahabat itu sibuk sama urusannya dia , dan perlahan akan terbentuk jarak diantara kita. Beda dengan keluarga, keluarga selalu ada pas lagi situasi apapun bahkan sampai nanti ajal menjemput pasti keluarga yang bakal nuntunin kita buat bicara dua kalimat syahadat. Mmm Dinar pribadi sih gak setuju.
Karena bagi dinar, sahabat itu bisa menjelma menjadi keluarga dan sahabat dinar itu adalah keluarga dinar. Sahabat gakan pernah marah yang berlebih kalau sampai kita berbuat salah, sahabat gak kenal perbandingan. Beda dengan keluarga, iya betul mereka akan ada dari kita lahir di bumi (khusus untuk ibu, saat kita masih di dalam perut) sampai kita kembali ke bumi. Tapi satu hal, bagi dinar pribadi keluarga gakbisa menjelma jadi sahabat dinar. Karena suatu alasan yang semoga saja hanya sahabat dinar yang tau, tanpa dinar perlu kasih tau.
3) Sahabat < Allah
Untuk alasan yang ini gak perlu panjang lebar. Secinta-cintanya kita pada keluarga, sahabat, teman, pacar, dll. Ingatlah kalau ada yang harus paling dicintai yaitu cinta sama Allah SWT.
Sekian ocehan dinar ini, semoga aja ada pelajaran yang diambil. Kalau yang keambil cuma dikit, crop aja gpp kok. Hahaha. Saya ikhlas. Oke, sekian. Selamat malam. Assalamualaikum wr.wb :)
@Dinarariyatni 10/06/2014. 11:09 pm
Rabu, 09 Juli 2014
True Love
Tak kerasa umur ku sudah menginjak 23 tahun lagi, tepat di hari ini (29 februari 2012) aku berusia yang ke 23 tahun. Semua orang yang aku sayangi datang kerumah di hari ini, mulai dari keluarga, sahabat, bahkan orang yang tidak menyukai aku pun datang ke rumahku. Mereka semua terbawa suasana pesta ulangtahun. Dan di umurku yang ke 23 ini aku hampir sudah memenuhi kebutuhan dunia ku, mulai dari rumah yang berlokasi di Bandung, kendaraan pribadi, pekerjaan, dan ladang usaha juga sudah mulai berkembang. Tapi satu yang belum aku miliki yaitu pacar atau teman hidup untuk selamanya. Entah kenapa, aku begitu sulit merasa dekat dengan kaum adam. Aku terlalu sibuk dengan nafsu ku akan dunia sampai aku menomor sekian kan urusan percintaan.
Hari ini hampir berakhir, para tamu undangan juga perlahan mulai meninggalkan rumahku. Bahkan ibu ku sudah pulang sedari awal karena ada pesanan yang harus beliau persiapkan besok. Ibuku seorang pengusaha catering, namun karena beliau mengerjakannya hanya seorang diri maka dia hanya melayani untuk skala kecil saja, acara arisan misalnya. Dan kebetulan aku dan ibuku sudah tidak tinggal serumah karena lokasi rumah ibuku jauh dari tempat kerja ku. Awalnya kami sekeluarga memutuskan menjual rumah itu dan membeli rumah baru yang lebih dekat dengan kerjaanku. Maklum saja aku adalah anak terakhir dan anak perempuan satu-satunya jadi amat diperhatikan. Namun sayangnya peristiwa naas terjadi, pesawat dari papua menuju bandung yang membawa ayah serta teman-teman dan penumpang lainnya hilang kontak. Dan sampai 2 bulan kemudian pun ayah, awak pesawat, bangkai pesawat, dan penumpang lain tidak diketahui keberadaannya. Ayah saat itu berangkat bersama teman-temannya untuk melakukan penelitian tentang biota laut di raja ampat. Ayahku yang bekerja di kelautan juga merupakan salah satu anggota dari kelompok peduli kesehatan laut indonesia.
Karena peristiwa itu, ibu dan kedua kakaku tidak jadi menjual rumah itu. Jadi aku putuskan untuk membeli rumah yang dekat dengan kerjaan ku, tapi sayangnya ibuku tidak mau ikut padahal rumahku masih satu kota dengan rumah warisan ayah. Maklum saja, terlalu banyak kenangan bersama ayah dirumah itu. Jadi ibu hanya tinggal bersama kaka ku yang kedua, karena kebetulan tempat kerjanya hanya beberapa km saja dari rumah. Sedangkan kakaku yang pertama sudah berumah tangga dan tinggal bersama istri dan seorang anak laki-lakinya di Jakarta.
Hari ini lain dari biasanya, aku merasa amat sangat lelah. Mungkin karena pesta tadi. Dan benar saja keesokan harinya aku bangun sekitar jam setengah 6.
"Yaaah kan telat, aaah harus ngapain dulu coba ini. Oh iya shalat, mandi, berangkat." Ucapku spontan saat bangun tidur dan melihat jam menunjukan angka 05.35.
Aku yang hari itu mengenakan kerudung dan baju senada berwarna hitam terburu-buru menyetir mobil menuju tempat kerja. Hari ini aku masuk kerja jam setengah delapan. Tapi bagiku, masuk jam setengah delapan sama dengan masuk jam 07.10.
"Gak boleh sampe telat ini, yahh gak apa-apa deh sampai jam tujuh lewat duapuluh." Di mobil aku tak henti-hentinya berbicara. Sampai akhirnya aku terjebak di kemacetan. Lebih kurang sepuluh menit aku terjebak di kemacetan dan belum juga ada tanda-tanda kemacetan akan segera berlalu, sehingga aku putuskan untuk mematikan mesin dan membuka kaca mobil bagian depan. Aku melihat sekeliling
"ternyata, suasana bandung bagus juga kalau pagi-pagi macet gini." Aku coba menghibur diri dengan perkataan ku yang membangun bahwa macet itu tidak terlalu buruk juga. Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat mobil yang lain pun mematikan mesin dan membuka kaca mobilnya.
Dan disamping kanan mobilku itu adalah mobil sedan berwarna hitam yang dikendarai oleh seorang pria berwajah manis campuran indonesia dan arab sepertinya, mengenakan baju kasual. Entah kenapa aku tertarik dengan pria itu, tak biasanya aku seperti ini. Apalagi aku tak mengenal pria itu, hatiku berpikir mungkin ini hanya iseng saja karna aku sedang merasa bosan. Tapi beberapa kali aku mencuri peluang untuk menatapnya dan ketika aku kepergok aku hanya bisa tersenyum.
"Oke ini gak biasa" ketika aku tersadar hal yang telah aku lakukan tadi diluar kebiasaanku.
Lima belas menit berselang, jalanan tempatku berada dipenuhi dengan suara mesin mobil yang dinyalakan. Dan ketika aku melihat sekelilingpun kaca mobil sudah tertutup semua, termasuk kaca mobil si sedan hitam itu. Dan tak lama kemudian, lalu lintas sudah lancar kembali. Sebetulnya ketika aku menyetir mobil, aku berpikiran untuk mem blokade sedan hitam itu dan mengajaknya berkenalan. Tapi itu sungguh tak masuk akal.
"Nanti, bukannya kenal sama dia yang ada kenal sama pengadilan. Takut disangka yang engga-engga. Toh kalau jodoh nanti juga ketemu lagi. Oke, sekarang kita semangat kerja." Ucapku girang sembari tertawa renyah. Ketika aku dalam perjalanan, aku melihat pedagang bubur ayam. Dan kuputuskan untuk sarapan terlebih dulu, agar tak merasa lapar saat bekerja.
Aku sudah sampai di lokasi kerjaku, dan mobil pun sudah terparkir. Ketika aku lihat arlojiku waktu menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit.
Seketika itu juga, aku berlari kecil menuju lift. Aku yang saat itu mendapat jatah parkir yang lumayan jauh dari kantor, harus melewati sekitar sepuluh mobil baru sampai di dalam ruangan dan menaiki lift.
"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tigaa. . " setiap mobil yang aku lewati aku coba hitung mundur, dan langkahku terhenti ketika melihat mobil yang ada di posisi nomor tiga.
"Subhanallah sedan hitam, eh tapi kali aja beda pemiliknya" aku coba mengamati mobil itu untuk memastikan bahwa sedan hitam ini berbeda dengan sedan hitam yang aku maksud. Tapi alangkah terkejutnya aku ketika melihat stiker bertuliskan 'trust me' di bagian kiri mobil. Bentuk, ukuran, warna, bahkan lokasi stiker itu juga sama dengan mobil sedan yang aku lihat dikemacetan itu.
Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menemui pos satpam.
"Assalamualaikum, pagi pak adi. Tau gak mobil sedan hitam itu punya siapa?" Tanyaku sembari mencium tangan pak adi, salah satu satpam di tempatku bekerja, aku sudah lumayan dekat dengannya. Dan umur beliau sama persis seperti umur ayahku, yaitu sekitar 56 tahun. Makanya, beliau sudah aku anggap seperti ayahku sendiri.
"Walaikumsallam. Pagi juga afkar, anak kebanggaan bapak. Bapak juga gatau neng. Tapi yang pasti itu pemilik mobil tuh bareng sama bu darla. Kenapa? Ada masalah? Cerita aja sama bapak." Begitulah pungkas pak adi dengan nada yang agaknya sedikit cemas.
"Oh engga pa, gak ada apa-apa kok. Bapak tenang aja. Yaudah pak udah siang, afkar kedalem duluan yaa. Assalamualikum" aku kembali berpamitan dengan pak adi.
Di dalam lift aku termenung, dalam hatiku memikirkan pria itu dan jovita darla callista. Yaa itu adalah nama lengkap darla. Aku lumayan dekat dengannya, tapi tak begitu mengenalnya. Kebetulan kami satu universitas dan dia adalah kakak tingkatku. Tapi setau ku, dia sudah bertunangan. Namun aku sangat yakin pria itu bukan tunangannya, karena sepertinya pria itu beragama islam dan darla beragama protestan. Bisa saja mereka melakukan pertunangan beda agama, tapi tidak mungkin.
-c- insyaAllah minggu depan paling telat



