Tak kerasa umur ku sudah menginjak 23 tahun lagi, tepat di hari ini (29 februari 2012) aku berusia yang ke 23 tahun. Semua orang yang aku sayangi datang kerumah di hari ini, mulai dari keluarga, sahabat, bahkan orang yang tidak menyukai aku pun datang ke rumahku. Mereka semua terbawa suasana pesta ulangtahun. Dan di umurku yang ke 23 ini aku hampir sudah memenuhi kebutuhan dunia ku, mulai dari rumah yang berlokasi di Bandung, kendaraan pribadi, pekerjaan, dan ladang usaha juga sudah mulai berkembang. Tapi satu yang belum aku miliki yaitu pacar atau teman hidup untuk selamanya. Entah kenapa, aku begitu sulit merasa dekat dengan kaum adam. Aku terlalu sibuk dengan nafsu ku akan dunia sampai aku menomor sekian kan urusan percintaan.
Hari ini hampir berakhir, para tamu undangan juga perlahan mulai meninggalkan rumahku. Bahkan ibu ku sudah pulang sedari awal karena ada pesanan yang harus beliau persiapkan besok. Ibuku seorang pengusaha catering, namun karena beliau mengerjakannya hanya seorang diri maka dia hanya melayani untuk skala kecil saja, acara arisan misalnya. Dan kebetulan aku dan ibuku sudah tidak tinggal serumah karena lokasi rumah ibuku jauh dari tempat kerja ku. Awalnya kami sekeluarga memutuskan menjual rumah itu dan membeli rumah baru yang lebih dekat dengan kerjaanku. Maklum saja aku adalah anak terakhir dan anak perempuan satu-satunya jadi amat diperhatikan. Namun sayangnya peristiwa naas terjadi, pesawat dari papua menuju bandung yang membawa ayah serta teman-teman dan penumpang lainnya hilang kontak. Dan sampai 2 bulan kemudian pun ayah, awak pesawat, bangkai pesawat, dan penumpang lain tidak diketahui keberadaannya. Ayah saat itu berangkat bersama teman-temannya untuk melakukan penelitian tentang biota laut di raja ampat. Ayahku yang bekerja di kelautan juga merupakan salah satu anggota dari kelompok peduli kesehatan laut indonesia.
Karena peristiwa itu, ibu dan kedua kakaku tidak jadi menjual rumah itu. Jadi aku putuskan untuk membeli rumah yang dekat dengan kerjaan ku, tapi sayangnya ibuku tidak mau ikut padahal rumahku masih satu kota dengan rumah warisan ayah. Maklum saja, terlalu banyak kenangan bersama ayah dirumah itu. Jadi ibu hanya tinggal bersama kaka ku yang kedua, karena kebetulan tempat kerjanya hanya beberapa km saja dari rumah. Sedangkan kakaku yang pertama sudah berumah tangga dan tinggal bersama istri dan seorang anak laki-lakinya di Jakarta.
Hari ini lain dari biasanya, aku merasa amat sangat lelah. Mungkin karena pesta tadi. Dan benar saja keesokan harinya aku bangun sekitar jam setengah 6.
"Yaaah kan telat, aaah harus ngapain dulu coba ini. Oh iya shalat, mandi, berangkat." Ucapku spontan saat bangun tidur dan melihat jam menunjukan angka 05.35.
Aku yang hari itu mengenakan kerudung dan baju senada berwarna hitam terburu-buru menyetir mobil menuju tempat kerja. Hari ini aku masuk kerja jam setengah delapan. Tapi bagiku, masuk jam setengah delapan sama dengan masuk jam 07.10.
"Gak boleh sampe telat ini, yahh gak apa-apa deh sampai jam tujuh lewat duapuluh." Di mobil aku tak henti-hentinya berbicara. Sampai akhirnya aku terjebak di kemacetan. Lebih kurang sepuluh menit aku terjebak di kemacetan dan belum juga ada tanda-tanda kemacetan akan segera berlalu, sehingga aku putuskan untuk mematikan mesin dan membuka kaca mobil bagian depan. Aku melihat sekeliling
"ternyata, suasana bandung bagus juga kalau pagi-pagi macet gini." Aku coba menghibur diri dengan perkataan ku yang membangun bahwa macet itu tidak terlalu buruk juga. Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat mobil yang lain pun mematikan mesin dan membuka kaca mobilnya.
Dan disamping kanan mobilku itu adalah mobil sedan berwarna hitam yang dikendarai oleh seorang pria berwajah manis campuran indonesia dan arab sepertinya, mengenakan baju kasual. Entah kenapa aku tertarik dengan pria itu, tak biasanya aku seperti ini. Apalagi aku tak mengenal pria itu, hatiku berpikir mungkin ini hanya iseng saja karna aku sedang merasa bosan. Tapi beberapa kali aku mencuri peluang untuk menatapnya dan ketika aku kepergok aku hanya bisa tersenyum.
"Oke ini gak biasa" ketika aku tersadar hal yang telah aku lakukan tadi diluar kebiasaanku.
Lima belas menit berselang, jalanan tempatku berada dipenuhi dengan suara mesin mobil yang dinyalakan. Dan ketika aku melihat sekelilingpun kaca mobil sudah tertutup semua, termasuk kaca mobil si sedan hitam itu. Dan tak lama kemudian, lalu lintas sudah lancar kembali. Sebetulnya ketika aku menyetir mobil, aku berpikiran untuk mem blokade sedan hitam itu dan mengajaknya berkenalan. Tapi itu sungguh tak masuk akal.
"Nanti, bukannya kenal sama dia yang ada kenal sama pengadilan. Takut disangka yang engga-engga. Toh kalau jodoh nanti juga ketemu lagi. Oke, sekarang kita semangat kerja." Ucapku girang sembari tertawa renyah. Ketika aku dalam perjalanan, aku melihat pedagang bubur ayam. Dan kuputuskan untuk sarapan terlebih dulu, agar tak merasa lapar saat bekerja.
Aku sudah sampai di lokasi kerjaku, dan mobil pun sudah terparkir. Ketika aku lihat arlojiku waktu menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit.
Seketika itu juga, aku berlari kecil menuju lift. Aku yang saat itu mendapat jatah parkir yang lumayan jauh dari kantor, harus melewati sekitar sepuluh mobil baru sampai di dalam ruangan dan menaiki lift.
"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tigaa. . " setiap mobil yang aku lewati aku coba hitung mundur, dan langkahku terhenti ketika melihat mobil yang ada di posisi nomor tiga.
"Subhanallah sedan hitam, eh tapi kali aja beda pemiliknya" aku coba mengamati mobil itu untuk memastikan bahwa sedan hitam ini berbeda dengan sedan hitam yang aku maksud. Tapi alangkah terkejutnya aku ketika melihat stiker bertuliskan 'trust me' di bagian kiri mobil. Bentuk, ukuran, warna, bahkan lokasi stiker itu juga sama dengan mobil sedan yang aku lihat dikemacetan itu.
Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menemui pos satpam.
"Assalamualaikum, pagi pak adi. Tau gak mobil sedan hitam itu punya siapa?" Tanyaku sembari mencium tangan pak adi, salah satu satpam di tempatku bekerja, aku sudah lumayan dekat dengannya. Dan umur beliau sama persis seperti umur ayahku, yaitu sekitar 56 tahun. Makanya, beliau sudah aku anggap seperti ayahku sendiri.
"Walaikumsallam. Pagi juga afkar, anak kebanggaan bapak. Bapak juga gatau neng. Tapi yang pasti itu pemilik mobil tuh bareng sama bu darla. Kenapa? Ada masalah? Cerita aja sama bapak." Begitulah pungkas pak adi dengan nada yang agaknya sedikit cemas.
"Oh engga pa, gak ada apa-apa kok. Bapak tenang aja. Yaudah pak udah siang, afkar kedalem duluan yaa. Assalamualikum" aku kembali berpamitan dengan pak adi.
Di dalam lift aku termenung, dalam hatiku memikirkan pria itu dan jovita darla callista. Yaa itu adalah nama lengkap darla. Aku lumayan dekat dengannya, tapi tak begitu mengenalnya. Kebetulan kami satu universitas dan dia adalah kakak tingkatku. Tapi setau ku, dia sudah bertunangan. Namun aku sangat yakin pria itu bukan tunangannya, karena sepertinya pria itu beragama islam dan darla beragama protestan. Bisa saja mereka melakukan pertunangan beda agama, tapi tidak mungkin.
-c- insyaAllah minggu depan paling telat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar