Ruangan kerjaku berada di lantai lima dan aku sekarang sudah berada di lantai empat namu waktu sudah menunjukan pukul 07.20, aku panik saat itu. Dan betul saja, ketika aku sampai di lantai lima betapa terkejutnya aku saat melihat bosku berada di depan lift.
"Maaf pak, aduh bapak datang lebih dulu dari saya. Saya ngerasa gaenak banget." Ucap saya spontan ketika melihat pak bos di depan mata. Padahal secara matematik saya masih punya waktu sekitar 9 menit sebelum akhirnya benar-benar terlambat.
"Eh, tingkah kamu ini bikin saya pengen ketawa. Qosama afkar bashira, ini itu belum setengah delapan. Kenapa kamu harus panik? Kalau aja umur anak saya masih hidup mungkin akan saya jodohkan kamu sama dia. Karena tingkah kamu ini" begitulah balasan pak bos, saya memang biasa memanggilnya pak bos. Karena itu akan menumbuhkan ikatan bos dengan karyawannya. Tapi jika diluar kantor saya biasa memanggilnya pak burhan.
Dari awal saya bekerja, pak burhan memang sering sekali membicarakan jika dia ingin sekali menjodohkan anaknya dengan saya. Namun, itu tidak akan pernah terwujud karena anaknya meninggal saat berusia 13 tahun saat kanker menggerogoti badannya. Pak burhan sering sekali cerita soal ini, dan setiap kali dia bercerita mengenai anaknya. Dia selalu menitihkan air mata.
"Eh iya pak, kan saya gak enak masa pak bos datang lebih dulu dari pada karyawannya." pungkas saya
"Udah, kamu gak pernah telat juga kan? Sekarang kamu ke ruangan kamu. Ntar siang ada tamu penting, saya mau pergi ke depan bentar." Ucap pak bos
"Oh iya, siap pak" pungkasku.
Hari menjelang siang, namun belum juga terdengar kabar dari tamu penting itu. Dan pak bos pun tidak diketahui keberadaannya, sejak tadi pagi pergi dia belum kembali juga.
Setelah lama menunggu pak bos akhirnya datang bersama tamu penting itu, namun sepertinya tamu penting itu grogi karena kulihat saat hendak memasuki ruangan dia beranjak ke toilet.
"Afkar, kamu liat yang tadi bersama saya? Dia tamu pentingnya. Dulu waktu smp dia temennya anak saya, eh sekarang udah jadi pengusaha aja. Dia mau ngadain riset disini, ntar kamu ajak dia keliling yaa" ucap pak bos panjang lebar sampai tak sempat aku menjawabnya
"Iya pak, tapi saya belum liat mukanya. Pas tadi diperhatikan, dia pergi ke toilet yaa?" Tanyaku kepada pak bos untuk menegaskan bahwa aku memang belum melihat mukanya. Yang kulihat hanya baju kemaja garis vertikal berpadu dengan celana hitam.
"Iya, tapi bentar lagi juga balik lagi"
Betul saja, tak lama pria itu kembali.
"Itu dia lagi jalan kesini, kamu ajak dia keliling. Saya percaya sama kamu afkar. Saya ada urusan dulu. Permisi" ucap pak bos yang kemudian meninggalkan saya, saya bahkan belum mengenal pria itu. Tapi saya harap dia tidak cuek.
"Hey, afkar yaa. Tadi pak burhan bilang ke saya kalau kalau saya mau tanya apa-apa ke afkar aja." Ucap pria itu, ternyata harapanku terwujud. Pria itu sepertinya tidak cuek karena dia terus menebar senyuman sembari menyapaku.
"Oh iya, mari. Nama saya Qosama afkar bashira. Anda bisa panggil saya afkar. Dan anda?" Ucap saya sembari menjulurkan tangan, bermaksud untuk berkenalan terlebih dahulu.
"Saya rifqie nadim ukail. Panggil saya rifqie. Saya sempat liat afkar pas macet, yang tadi bawa mobil merah kan? Saya yang bawa sedan hitam. Ingat?" Ucapnya sembari berjabat tangan dengan saya. Dalam hati saya, saya mencoba mengingat bagaimana muka pria yang ada di sedan hitam itu. Sembari mengamati muka rifqie, ternyata mukanya memang persis. Dan menurut saya, dia tampak lebih tampan ketika dilihat dari jarak jauh. Untung saja, saya tertarik dengan pria itu hanya saat di kemacetan dan itu membuktikan jika saya tidak betul-betul tertarik dengan pria itu.
Tiba-tiba rasanya badan saya seperti disenggol, hingga hampir saja membuat saya nyaris tak bisa menjaga keseimbangan.
"Eh maaf, tadi nginget dulu. Iya saya yang tadi bawa mobil merah. Yang nyenggol tadi rifqie?" Tanya saya kepada rifqie ketika saya tersadar dari lamunan dan berhasil menjaga keseimbangan tubuh kembali.
"Iya, abisnya kelamaan mikirnya. Kita gausah kaku banget yaa karena kata pak burhan umur kita tidak beda jauh. Hanya saja saya lima bulan lebih muda dari afkar. Yaudah kapan mau ngajak kelilingnya?" Suaranya seakan menyejukan hati saya sehingga saya sampai tak terpikirkan untuk menanyakan hubungannya dengan darla. Saya hanya membalas pertanyannya dengan senyuman.
Hari beranjak malam, tepatnya sekarang sudah pukul tujuh. Dan semua sisi kantor sudah di kelilingi, termasuk hal yang diluar nalar. Tempat itu adalah toilet, dapur, dan tempat parkir. Namun anehnya, selalu ada saja pertanyaan di tiap tempat yang dikunjungi hingga saya harus bertanya kepada oranglain untuk menjawab pertanyaannya. Dan saya sempat berpikir sebelum dia melakukan riset ini sepertinya otaknya dikosongkan terlebih dulu karena begitu banyak pertanyaan yang dia ajukan kepada saya.
Ketika waktu menunjukan pukul 07.35 dia memutuskan untuk menyudahi riset hari ini.
"Eh kar, udahan aja. Udah lebih dari cukup nih infonya. Thanks yaa." Karena hampir setengah hari kita lalui bersama, kita sudah tidak canggung satu sama lain.
"Iya sama-sama, lagian gimana gak lebih dari cukup. Pertanyaannya banyak banget" ucap saya lantang tanpa memikirkan perasaan dia atas ucapan saya. Suasana sempat sunyi, sehingga saya berpikiran kalau dia tidak suka atas ucapan saya
"Yaelah, perhitungan lu ah. Eh dinner yu, hari ini gue langsung balik ke jakarta soalnya, gue traktir deh itung-itung tanda terimakasih." Selama tadi melakukan riset, tidak hanya membahas tentang riset tersebut. Namun juga tentang diri masing-masing, dan dia menginformasikan jika dia itu lahir, tinggal, dan bekerja di Jakarta.
"Iya, lagipula ada yang mau afkar tanyain"
Akhirnya kita putuskan untuk makan di rumah makan sunda dan pergi ke tempat tersebut menggunakan kendaraan masing-masing. Sesampainya di tempat makan, kita memutuskan untuk makan di tempat lesehan di pojok rumah makan tersebut. Dan di langsung memesankan makanan untuk kita berdua. Bahkan dia tak bertanya selera saya seperti apa.
"Kok main di pesen aja? Kalau nanti saya tidak suka gimana?" Saya memang agak sedikit sensi jika ada kesalahan soal makanan. Karena sedari kecil, saya memang banyak pantangan dari kedua orangtua saya.
"Yah jangan marah, yaudah ganti aja pesanannya. Maaf yaa." Pungkasnya.
"Gausah, terlanjur juga kan? Oh iya kata pak adi, rifqie dateng sama bu darla. Dia siapa? Tunangan?" Tanya saya untuk mengalihkan perhatian.
"Pak adi siapa? Bukan, masa gue tunangan dengan darla? Beda agama gitu. Dia sahabat gue dari kecil, dulu kita satu rt."
"Pak adi itu satpam di kantor. makanannya udah dateng. Yeey" Jawab saya sambil tertawa.
"Suka gak? Gue tadi pikir lu suka semua. Lu kan orang sunda dan ini rumah makan sunda"
"Iya suka, maaf yaa. Afkar gak inget kalau ini rumah makan sunda" ucap saya sambil tersipu malu.
Makan malam sudah selesai, dan kita berpisah saat dia hendak memasuki jalur tol dan kita sempat betukar kartu nama.
Sesampai di rumah, saya bergegas mandi dan tidur. Namun rupanya saya tidak bisa terlelap begitu saja, saya memikirkan rifqie. Bahkan saya tak mempunyai alasan untuk memikirkannya, namun saya seperti tidak bisa mengontrol diri saya sendiri. Spontan saya mengambil kartu namanya dan mengirim pesan singkat. 10 menit menunggu belum ada balasan, 20 menit menunggu belum juga ada balasan, 30 menit menunggu belum juga ada baladan, di menit ke 40 saya sudah terlelap tidur.
Hari ini, di kantor tidak begitu banyak "pekerjaan menggangu" sehingga saya putuskan untuk menemui bu darla. Saya selalu memanggilnya bu darla karena dia "senior". Sebetulnya saya tidak tahu di ruang mana bu darla bekerja. Saya hanya berkeliling saja dan apabila ada yang menanyakan perilaku saya, saya hanya jawab dengan senyuman. Beruntunglah, saya bertemu dengan pak adi dan dia mengantarkan saya ke ruang bu darla.
-segitu dulu aja deh, sudah mulai ancur mood nulisnya. Hahaha. Maafin kalau harus mikir keras bacanya
16 Juli 2014. 10.45 pm
@dinarariyatni